Senin, 03 Agustus 2009

perbanyakan/budidaya puring


puring bisa diperbanyak secara generatif pakai biji. Tetapi dengan alasan efektivitas waktu, cara vegetatif lebih banyak diterapkan. Cangkok dianggap paling pas untuk menganakinakkan. Persentase keberhasilan cangkok lebih tinggi dibandingkan dengan perbanyakan cara lain. Cara ini pun relatif lebih cepat. Kalau dicangkok calon tanaman baru masih mendapat suplai hara dari tanaman induk sehingga akarnya bisa cepat tumbuh. Kalau disetek calon tanaman tidak memperoleh pasoan hara sehingga akar lama munculnya. Cara mencangkok tidak sulit. Cari cabang yang cukup umur yang ditandai dengan warna kulit batang berwarna cokelat, banyak mengandung zat kayu, umumnya berdiameter 3 – 4 cm. Tekstur batang sudah keras. Tak terlalu banyak terdapat bekas tangkai daun. Umumnya cabang yang masih banyak memiliki bekas tangkai daun adalah batang berusia muda. Batang terpilih lantas disayat klitnya secara melingkar. Lebar sayatan sebesar 4 – 5 cm. Kambium yang masih menempel lalu dikerik sampai bersih. Sebab bila tidak dikerik dikhawatirkan kulit akan pulih kembali. Akibatnya akar tidak tumbuh. Setelah dikerik, bekas sayatan dibiarkan sampai kering. Bagian kulit yang akan tumbuh akar diolesi zat perangsang semisal rootone F. Atau bisa diganti dengan bawang merah. Umbi tanaman bumbu dapur itu ditumbuk, lalu dioleskan di bagian yang akan tmbuh akarnya. Sayatan bisa segera dibungkus dengan media tanam. Tidak perlu dicampur dengan pupuk sintetis. Tanah liat atau sabut kelapa pun tidak masalah. Yang penting media cangkok harus selalu dlam keadaan basah. Ketika akar mulai tumbuh, air tidak boleh telat sebab akar akan kering dan gagal tumbuh lagi. Sekitar 3 minggu usai dibungkus, akar cangkokan sudah tumbuh kuat. Ditandai dengan ukuran akar membesar, panjang dan telah menembus plastik pembungkus media. Jumlah akar pun cukup banyak. Berarti cangkokan siap dipotong dan ditanam. Cangkokan yang sudah ditanam dalam polibag atau pot lalu ditaruh di tempat yang sejuk, lembab dan teduh. Jika daun sudah segar bibit puring berarti siap ditanam atau dijual. Sambung dan Tempel Okulasi alias tempel mata tunas juga bisa jadi pilihan. Cara ini tergolong efektif dan cepat. Cocok diterapkan untuk memperbanyak puring langka dan sedang diminati. Semisal puring kura – kura. Umumnya memakai batang bawah puring murah Sementara mata tempelnya adalah puring mahal. Mata tempel dipilih yang sehat dan masih aktif. Ditandai dengan warna hijau kecoklatan dan nampak segar berair. Mata tunas yang mati biasanya berwarna hitam. Mata tunas diambil dengan jalan menyayat. Disarankan menggunakan pisau yang benar – benar bersih dan tajam. Setelah itu disiapkan tempat penempelan di batang tanaman puring yang lain. Ukurannya harus benar – benar pas. Mata tunas lalu secepatnya dipasang. Lendir dan kambim jangan sampai mengering aau terpegang. Mata tunas yang sudah dipasang lau diikat erat dengan tali rafia. Cara mengikatnya seperti orang menyusun genting. Yaitu dari bawah menuju ke arah atas. Supaya air hujan tidak masuk ke dalam. Air hujan bisa mengakibatkan mata empel membusuk. Sekitar sebulan kemudian biasanya mata tempel sudah melekat. Tali pembalut bisa dilepas. Tajuk tanaman pokok bisa dipangkas. Supaya mata tunas bisa segera tumbuh. Begitu juga sambung pucuk, tingkat keberhasilannya terbilang sangat tinggi. Batang bawah puring murah disambung dengan entres puring favorit. Biasanya menggunakan bentuk sambungan ‘V’ lantas diikat plastik. Sama seperti okulasi, entres alias batang atas dipilih yang belum terlalu tua, berciri tak terlalu keras, juga sedang aktif tumbuh.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar